KARENA 'KEHENDAK' TIDAK BISA DIHITUNG, TAPI 'ADA'

 : penolakan terhadap Materialisme itu tidak berarti menjadi 'tunatekno'



1. Tentang AKU YANG BERKEHENDAK

2030 nanti atau lebih cepat, jumlah hormon tertentu yang mengalir di dalam tubuh manusia dalam rentang waktu tertentu, sudah bisa dihitung dalam satuan parts per million (ppm) / second (s) melalui sensor masa depan --apa pun bentuknya, bisa padat atau liquid.

Kalo lagi senang, oh, sekian ppm / s kadar dopamin nya. Kalo lagi sedih, oh, sekian ppm / s kadar serotonin dan kortisol nya. Kekurangan? Kelebihan? Tinggal pencet remote control. Di masa depan, alatnya nanti disebut mood booster, harga 100 EU bikinan Jerman. Ada yang murah 40 EU off label atau maklon, bikinan Tiongkok, konstruksi sama tapi material beda. Masuk sini dijual 90 EU. Margin 125%. Menang banyak. 😁

Paling nanti kalo mau isengin temen, ambil diam-diam tuh remotenya. Pencet-pencet ngacak. Pasti gelinjang-gelinjang nggak karuan tuh mood-nya, kebingungan sendiri.

Hormon memiliki bentuk materi (punya struktur atom), ada rumus kimia beserta molekul pembentuknya, oleh karena itu countable.

TETAPI selalu ada hal yang tidak akan bisa dihitung alias impossible to count, yaitu 'Aku' dan 'Kehendak'.

Nyawa itu immateri alias tak berwujud. Agar tak berdebat filosofis panjang lebar, kita seragamkan dulu untuk sama-sama mengatakan : nyawa disandikan dengan kata 'Aku'.

Sedangkan 'Kehendak' merupakan kata benda (tak berwujud) dari kata dasarnya : hendak, sebagai kata adverbia, yang arti harfiahnya : "mau; akan; bermaksud akan: "

Ketika 'Aku berKehendak', maka itu berati 'Aku' memproyeksikan pikiran sadar terhadap suatu imaji di dalam pikiran atau materi di luar tubuh, dan 'Aku' tentu mampu untuk mengontrol seberapa lama ingin berimajinasi atau berpersepsi terhadap suatu imaji / materi.

"Pokoknya suka-suka, bisa cepat atau lama, bisa santai atau intens, dll"

Tidak bisa dihitung kadarnya seberapa lama kah, seberapa intens kah 'Kehendak' itu berproses mempengaruhi pikiran dan tubuh manusia setelah diaktifkan oleh si 'Aku'.

Tidak ada algoritmanya karena Kehendak bukanlah hormon / benda / materi.

Dan dalam prosesnya, meskipun Tak Berwujud materi, Kehendak tetap saja dapat menimbulkan 'perasaan tertentu' yang mempengaruhi sistem biologis tubuh manusia ----tanpa bermaksud mengesampingkan fakta umum bahwa 'perasaan tertentu' merupakan ekspresi dari stimulus luar tubuh yang ditangkap panca indera ; nonton komedi atau film roman, misalnya ; bersentuhan kulit dengan wanita terkasih, misalnya.

Sebagai hasil yang terekspresi, tinggi-rendahnya 'suatu perasaan' dapat dhitung melalui 'sensor masa depan di dalam tubuh' yang mengukur kadar ppm / s hormon yang terkait di dalam tubuh. Perasaan sedikit bahagia vs perasaan sangat bahagia tentu sangat berbeda jauh angkanya dalam ppm / s.


2. APA MANFAATNYA 'PERASAAN OPTIMIS' BAGI IMUN SISTEM?

Kalo kamu ingat, ada istilahnya homeostasis di dalam tubuh manusia : 

"any self-regulating process by which biological systems tend to maintain stability while adjusting to conditions that are optimal for survival. If homeostasis is successful, life continues; if unsuccessful, disaster or death ensues. The stability attained is actually a dynamic equilibrium, in which continuous change occurs yet relatively uniform conditions prevail" (Encyclopedia Britannica).

Aktifitas metabolisme di dalam tubuh manusia itu berkerja secara otonom (di luar kontrol pikiran sadar). Kamu sedang tidur atau terjaga, kerja metabolisme tubuhmu tetap berlangsung 24 jam menuju kondisi keseimbangan homeostasis.

TETAPI, manusia dapat mengontrol (baca : mengintervensi) kondisi keseimbangan homeostatis di dalam tubuhnya sendiri ---melalui upaya membangkitkan 'perasaan tertentu' yang juga berarti mengontrol 'hormon tertentu' di dalam tubuhnya. Upaya membangkitkan ini, yang kita sebut 'Kehendak'.

Ketika 'Aku' mengaktifkan Kehendak, maka pikiran sadar akan memunculkan imaji-imaji yang diinginkan untuk hadir di dalam pikiran secara psikologis, sekaligus secara alamiah mengaktifkan 'hormon-hormon baik'  di dalam tubuh secara fisiologis.

'Hormon baik' di sini, maksudnya, hormon yang bermanfaat dan memang dibutuhkan pada momen itu (saat itu, tempat itu) ; dopamin dalam kadar yang cukup, serotonin dalam kadar yang cukup, dll.

Setelah itu baru mencari benda-benda yang dibutuhkan di luar tubuh atau dunia materi --Vitamin C, Zink, buah, sayur, dll.

Dan 'perasaan optimis' inilah yang (seharusnya) menjadi 'the core' nya imun sistem tubuh manusia ---sedangkan vitamin C, zink, buah-buahan dan sayur-sayuran itu 'second layer' nya.

Betapa pun mampu tercukupinya asupan nutrisi dan obat-obatan, jika tanpa 'perasaan optimis', maka situasi ini seperti orang kaya mati termenung-menung kesepian di pojokan gudang hartanya. Oh tentu ada, bahkan banyak kok, orang-orang di situasi ini.

Itu gunanya 'perasaan optimis', sayang.


3. FILM PATCH ADAM bicara tentang AKU YANG BERKEHENDAK

Tapi kemudian kamu menanggapiku dengan sinis dan menyebut aktifitas menyebarkan optimisme ke tengah masyarakat sebagai 'Toxic Positivity'. Berdasarkan pemaparan di atas, menurutku, kamu salah paham.

Bukankah aku sudah berbulan-bulan menyimak segala bentuk ekspresi kemarahan, kesedihan, rasa kesal, dll dari dirimu? Kita tidak boleh terjebak di dalam situasi :

"There is growing evidence that this inflammatory process related to depression may be INFLUENCED BY PSYCHOLOGICAL STRESS as well as organic inflammatory conditions. These findings suggest that specific influences related to traumatic stress and dissociation could be found in close relationship to increased level of cytokine IL-6...."  👉 https://www.researchgate.net/publication/24270645_Depression_traumatic_stress_and_interleukin-6

Kita perlu 'pintu keluar', dan membangkitkan 'perasaan optimis' oleh Kehendak dari si 'Aku' di dalam diri masing-masing kita, inilah kuncinya.

Sebaiknya, kamu harus mengingat kembali perihal Keajaiban, sentuhan 'Tangan' Tuhan melalui si 'aku dalam diri', yang bisa kamu rasakan kembali melalui kisah nyata dokter Hunter Doherty "Patch" Adams (born May 28, 1945).

Siapin paket data 2 GB, download film lengkap (full version)-nya di sini 👇

https://drive.google.com/file/d/1GIfScRUKQ2d9vOutkgv2b6F-NJBXl4vE/view?usp=sharing

Tonton dulu 😁, hayati dulu, baru bisa muncul : 'Kita berKehendak' untuk bicara kembali soal public health, eugenics & bioethics, telemedicine, virtual reality, genome sequencing, MRI, dll.

'Aku berKehendak' menjadikan 'perasaan optimis' sebagai bahan bakar, sains modern sebagai kendaraan, dan Tuhan adalah tujuan. Bagaimana denganmu, sayang?

Kemana kah kamu proyeksikan arah Kehendakmu? Ke arah glorifikasi sains modern 4.0? Atau kembali kepada 'Cita-cita Mulia' seperti yang dimiliki seorang Patch Adam? 🤔

------
Oleh : Anonim inside WWW.PENULIS.ORG

Cuma pengen nyolek Goenawan Mohamad, Bambang Sugiharto, AS Laksana, dkk seniman-budayawan senior lainnya yang sedang asyik berdiskusi soal kebermanfaatan sains 4.0 untu kids jaman now .

Mungkin, ini merupakan sudut pandang lain / pokok bahasan yang berbeda.

Keseimbangan itu " = "